Archive | pemasaran RSS feed for this section

THE NEXT MARKETING STRATEGY THAT WORKS !!!

5 May

THE NEXT MARKETING STRATEGY THAT WORKS !!!

BY ; MARKPLUS, Inc

MENJADI PENJUAL BERMATA ELANG

1 May

MENJADI PENJUAL BERMATA ELANG

29,5 cara menemukan pembeli Potensial

by : Jenu Widjaja Tandjung, MM, CPM (AP)

“Dinamika bisnis dan pasar selalu membawa perubahan. Buku ini bisa memberi inspirasi untuk menjadi Penjual Ulung di tengah iklim ketidakpastian dan memanusiakan pembeli di tengah era pasar yang semakin Horizontal. Jadi, sekarang saatnya, Anda mulai belajar menjadi “Seorang Penjual Bermata Elang”.” Hermawan Kartajaya Founder & President of MarkPlus Inc.

Buku ini ditujukan kepada PENJUAL yang masih sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan calon pembeli. Selain itu, buku ini juga bermanfaat bagi PENJUAL senior yang belum menggunakan langkah langkah strategis seperti yang dipaparkan di dalam buku ini.

Saatnya para PENJUAL bekerja bukan sekadar BERMODAL NEKAT melainkan penuh PERSIAPAN DIRI. Menjadi Penjual Bermata Elang: 29,5 Cara Menemukan Pembeli Potensial berusaha membahas tentang bagaimana para penjual mampu menemukan calon pembeli yang tepat dan memiliki daya beli.

The Must-Have Customer

17 Sep

The Must-Have Customer

7 Taktik Jitu Merebut Hati Pelanggan Idaman Anda

by : Robert Gordman dengan Armin Brott

The Must-Have Customer mengupas kiat mempertahankan pelanggan yang terbaik dan cara mengenali, menarik, serta membina hubungan jangka panjang dengan pelanggan must-have-pelanggan yang akan meningkatkan kesuksesan.

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan cara mengenali aturan main pelanggan must-have dalam berbisnis,belajar cara mengenali karyawan must-have dan bagaimana mereka bisa memperbaiki cara perusahaan berbisnis dengan pelanggan, dan belajar cara menyusun rencana strategis dan cara meningkatkan sales serta profit dengan memperbaiki keefektifan pengiklanan bisnis.

Pemetaan lengkap Gordman terhadap seluruh sistem bisnis menjadikan buku ini bacaan wajib bagi semua eksekutif bisnis, konsultan, manajer, dan siapa pun yang ingin meningkatkan kinerja bisnisnya.

Walaupun tidak tercantum di neraca perusahaan, pelanggan inti merupakan aset vital. Rasio antara jumlah pelanggan inti dan pelanggan oportunis, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam rasio, merupakan indikator akurat kesuksesan perusahaan.ROBERT GORDMAN

Marketing Plus 2000

3 Sep

Marketing Plus 2000

by : Hermawan Kertajaya

Untuk bisa sukses bersaing dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan, perusahaan-perusahaan di Indonesia mesti melakukan redefinisi pemasaran. Mengapa? Karena pemasaran mesti mengikuti perubahan suatu variabel yang sangat menentukan. Menjadikan pemasaran sebagai jiwa dan tidak lagi menjadi satu anggota tubuh perusahaan. Artinya, pemasaran bukan hanya monopoli fungsi pemasaran, tapi menjiwai setiap orang dalam mengambil keputusan. Selain itu Hermawan Kartajaya juga menegaskan adanya tiga nilai dalam perusahaan. Pertama, merek lebih penting dari produk. Karena pada hakikatnya pelanggan membeli merek, bukan produk. Kedua, apa pun bisnis yang dijalankan, pemilik perusahaan harus menganggapnya sebagai bisnis jasa. Ketiga, setiap orang dalam perusahaan harus merasa terlibat dalam proses pemuasan pelanggan, baik secara langsung atau tidak, bukan hanya sebagai pelaksana dari suatu fungsi tertentu.

MARKETING WISE

29 Jul

MARKETING WISE

by : SUNNY T.H. GOH & KHOO KHENG HOR

Pendekatan Inonvensional terhadap strategi pemasaran asia

Pemasaran adalah salah satu fungsi dari dua fungsi dasar perusahaan. Tetapi, apakah pesaran itu? Secara konvensional dan fundamental, pemasaran bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi, untuk bisa berhasil di dalam dunia pemasaran yang sangat kompetitif sekarang ini, pelanggan harus didahuliukan, dan perusahaan harus berorientasi kepada pelanggan. Bukankah demikian? Jawaban di dalam buku Marketing Wise ini akan membuat Anda terkejut.

The Smart Marketer In Cafe

28 Jul

The Smart Marketer In Cafe

by :  FRANS M. ROYAN

Munculnya kafe di berbagai kota besar rupanya tidak hanya menguntungkan si pemilik kafe dan para pencari kerja. Hadirnya kafe juga melahirkan fenomena sosial dan budaya baru. Kafe bukan lagi sekadar tempat untuk minum teh atau kopi dan menyantap makanan ringan sembari melepas kejenuhan dan melewatkan waktu. Para pecinta kafe, yang rutin berkunjung ke kafe-kafe tertentu, melihat ada banyak peluang dan manfaat yang bisa mereka dapatkan saat berkunjung ke kafe. Mereka menajdikan kafe sebagai tempat untuk berkumpul, bersosialisasi, berarisan, berkencan, bertukar pikiran, memperluas jaringan, berbisnis, dll. Desain dan suasana kafe pun dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi harapan para pecinta kafe.

Isi buku ini pun berpijak pada pengalaman para eksekutif yang getol nongkrong di kafe. Banyak hal terjadi, dirancang, bahkan diputuskan di sana. Suasana rileks di kafe, yang sungguh berbeda dengan suasana tegang di kantor, ternyata mampu merangsang pikiran para eksekutif itu untuk melahirkan berbagai ide dan strategi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Buku ini akan difokuskan pada masalah pemasaran, khususnya kerja sama antara distributor dan prinsipal. Beberapa topik yang dibahas antara lain: split product, kunci SCP (spreading, coverage, penetration), pemetaan ulang area distribusi, membangun sales force yang efektif, membangun benteng distribusi yang kokoh, program incentive task force dan sales reguler, customer relationship management, membangun sub distributor kecamAtan (SDK), dll. Pembahasan topik-topik tersebut disampaikan dalam bentuk cerita dan ”obrolan”, sebagaimana yang terjadi di kafe-kafe, sehingga menarik, mudah dipahami dan tidak membosankan.

Samurai Selling

31 May

Samurai Selling

by :

CHUCK LAUGHLIN , KAREN SAGE & MARC BOCKMON

Here is a book on sales technique with a different angle. Samurai Selling: The Ancient Art Of Modern Service by Chuck Laughlin, Karen Sage and Marc Bockmon takes lessons learnt from the famed and legendary shogun and the nameless or ordinary samurai of Japan and applies them to the arena of modern selling. The authors are armed with metaphors, quotations, excerpts and parables of the samurai and use them to create analogies between the two worlds. Samurai, the authors tell, translates roughly to ‘one who serves’ and the writers seek to instill the value, along with other concepts like Ki, balance, integrity, urgency and APE (Account, Problem and Effect) questioning into the reader.
The concept is different and interesting, but the book has as many hits as misses. For one, the authors’ analogies are often stretched and forced. For another, the book seems to run out of applicable parables on occasion and just does without. Moreover, to maintain perspective, the samurai sought to serve without looking for gain. The modern salesperson – and his manager – would hardly care for that attitude. Yes, serving brings and facilitates the sale, but the juxtaposition still has merit.
Samurai Selling is a lofty ideal – the authors’ use of it to launch, nurture and enrich a corporate training career notwithstanding – but looking around one sees plenty of real-life examples which contradict its application to success.